5
Nov

Marawis

   Posted by: TPQ Al-Insyiroh   in Activity

Salah satu kesenian berlatar belakang Islam-Arab yang hingga kini masih populer adalah Marawis. Kesenian ini dibawa ke Indonesia oleh para pedagang dan ulama yang berasal dari Yaman beberapa abad yang lalu.

Nama marawis diambil dari nama salah satu alat musik yang dipergunakan dalam kesenian ini.
Secara keseluruhan, musik ini menggunakan hajir (gendang besar) berdiameter 45 cm dengan tinggi 60-70 cm, marawis (gendang kecil) berdiameter 20 cm dengan tinggi 19 cm, dumbuk (sejenis gendang yang berbentuk seperti dandang, memiliki diameter yang berbeda pada kedua sisinya), serta dua potong kayu bulat berdiameter sepuluh sentimeter.
Kadang kala perkusi dilengkapi dengan tamborin atau krecek. Lagu-lagu yang berirama gambus atau padang pasir dinyanyikan sambil diiringi jenis pukulan tertentu.

Dalam Katalog Pekan Musik Daerah, Dinas Kebudayaan DKI, 1997, terdapat tiga jenis pukulan atau nada, yaitu zapin, sarah, dan zahefah.
Pukulan zapin mengiringi lagu-lagu gembira pada saat pentas di panggung, seperti lagu berbalas pantun. Nada zapin adalah nada yang sering digunakan untuk mengiringi lagu-lagu pujian kepada Nabi Muhammad SAW (shalawat). Tempo nada zafin lebih lambat dan tidak terlalu menghentak, sehingga banyak juga digunakan dalam mengiringi lagu-lagu Melayu.
Pukulan sarah dipakai untuk mengarak pengantin.
Sedangkan zahefah mengiringi lagu di majlis. Kedua nada itu lebih banyak digunakan untuk irama yang menghentak dan membangkitkan semangat.

Dalam marawis juga dikenal istilah “ngepang” yang artinya berbalasan memukul dan ngangkat.
Selain mengiringi acara hajatan seperti sunatan dan pesta perkawinan, marawis juga kerap dipentaskan dalam acara-acara seni-budaya Islam.

Marawis dimainkan oleh minimal sepuluh orang. Setiap orang memainkan satu buah alat sambil bernyanyi. Terkadang, untuk membangkitkan semangat, beberapa orang dari kelompok tersebut bergerak sesuai dengan irama lagu. Semua pemainnya pria, dengan busana gamis dan celana panjang, serta berpeci. Uniknya, pemain marawis bersifat turun temurun. Sebagian besar masih dalam hubungan darah — kakek, cucu, dan keponakan. Sekarang hampir di setiap wilayah terdapat marawis.

(Source: id.wikipedia.org dan forum.dudung.net)

Di TPQ Al-Insyiroh, para santri juga rutin berlatih marawis. Meskipun belum lama berlatih, mereka sudah berani tampil dalam acara buka bersama yang selain diikuti oleh para santri dan guru-guru, juga dihadiri oleh banyak tamu undangan yang lain.

Ayo kita intip suasana pada saat mereka sedang berlatih marawis…. ;)

Pengarahan dulu...

Pengarahan dulu...

Aji dan "hajir"-nya (yang guedhe itu lho...)

Aji dan hajir-nya (yang guedhe itu lho...)

Ka' Siroj sedang memperagakan cara memainkan "marawis"nya

Kak Siroj sedang memperagakan cara memainkan marawis-nya

Ini yang namanya "ngepang" alias "tanya dan jawab"...

Ini yang namanya ngepang alias tanya dan jawab...

Tags:

This entry was posted on Thursday, November 5th, 2009 at 9:26 am and is filed under Activity. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. You can leave a response, or trackback from your own site.

One comment

 1 

I read blogs on a similar topic, but i never visited your blog. I added it to favorites and i’ll be your constant reader.

February 25th, 2010 at 10:16 pm

Leave a reply

Name (*)
Mail (will not be published) (*)
URI
Comment