Jam 13.30 siang, hari kesepuluh di Bulan Maret tahun duaribu duabelas.
Belum banyak orang disini. Rombongan kami pun hanya berdelapan plus Bu Endah dan Pak Yusron, pembina kami.
Kulemparkan pandanganku berkeliling tempat ini.
Di pintu masuk kulihat dua orang Bapak berseragam biru tua yang tadi memeriksa tas bawaan kami masih asyik melakukan rutinitas yang sama kepada para pengunjung yang baru datang.
Di sebuah meja panjang (bentuknya seperti loket) kulihat dua orang mbak yang cantik banget sedang melayani orang-orang yang bertanya sesuatu sambil kadang-kadang menunduk dan menunjuk-nunjuk sesuatu di meja di depannya. Kelihatannya seperti ada layar di bawah situ. Mungkin itu layar komputer.
Lucu juga, ada komputer yang bisa diletakkan di bawah meja. Sementara komputer yang ada di sekolahku biasanya diletakkan di atas meja. Hehehe…
Di sisi lain di seberang mbak-mbak tadi ada sederetan mesin-mesin yang mengeluarkan suara berisik. Di layarnya terlihat aneka gambar bergerak. Ada gambar balap motor, ada perang-perangan, ada… apa lagi ya? Pokoknya seru deh. Kulihat beberapa anak seusia kami sedang asyik memainkan alat-alat itu.
Di deretan lain ada banyak gambar makanan dan minuman di dinding, ditambah dengan lemari kaca berisi kue-kue yang nampaknya sangat lezat. Ada juga lemari pendingin berisi aneka botol minuman dengan berbagai merk. Banyak mbak dan mas yang berdiri sambil tersenyum ramah situ.
Oya, sebelum lupa, namaku Febri.
Aku dan teman-temanku dari TPQ Al Insyiroh siang ini diajak nonton bareng (nobar) film “Negeri 5 Menara“.
Kata Pak Yusron tadi malam, yang mengajak kami kali ini adalah om dan tante, kakak, mas dan mbak dari kelompok Tangan Di Atas (TDA) Bekasi.
Meskipun kami belum tahu dan belum kenal dengan mereka, yang jelas kami senang sekali bisa datang ke sini.
Ini adalah nobar kedua kami setelah “Laskar Pelangi” dulu, atas ajakan Bapak-bapak dan Ibu-ibu dari Telkom.
Waktu itu mbak Irfa–salah satu dari kami–sempat maju ke depan panggung dan membacakan beberapa baris kalimat di Buku Laskar Pelangi dan setelah itu langsung dapet hadiah tandatangan dari Bang Andrea Hirata di bukunya. Asyik yah. Oya, ada Om Andi F. Noya juga disana
.
Dulu dokumentasinya ada di blog ini. Sayang semuanya sudah hilang, gara-gara ulah om hacker yang mengacak-acak blog TPQ Al Insyiroh ini.
Hiks… sedih ya temans, padahal apa salah kami ke om-om itu. Kami kan hanya ingin berbagi kepada dunia tentang aktivitas dan ilmu-ilmu yang sudah kami peroleh selama empat tahun belajar di TPQ Al Insyiroh. Meskipun kami hanya anak-anak yang kurang mampu, tapi kami tetap ingin bisa berbagi seperti yang lain lho.
Ya sudahlah, nggak boleh kelamaan sedihnya. Kita doa’in saja semoga om-om itu mendapat hidayah dari Allah Yang Maha Rahman dan Maha Rahim. Amiin.
Wah, ini kita mau ngapain ya? Kok bengong-bengong aja.
Kulihat Bu Endah sibuk berbicara dengan seseorang melalui telepon genggamnya.
Kemudian berbincang dengan seorang ibu yang terlihat sedang kebingungan juga.
Setelah itu ada om siapa ya, yang pake seragam putih dan bertuliskan “TDA” dan kemudian memberikan sesuatu ke Bu Endah. Kalau tidak salah dengar, ibu sempat menyebut namanya: Om Enjang.
Selesai berdiskusi dengan Om Enjang, ibu kembali menghampiri kami dan membagi-bagikan pita kecil berwarna hijau untuk disematkan di baju.
Setelah itu…. “Ayo kita foto dulu di sini. Spanduknya dibuka aja,” seru beliau.
Jreng… jreng… lumayan nih, bisa narsis dikit.
Coba lihat gaya kami ini, keren kan…
Puas bergaya agak narsis, kami diajak ke deretan lemari kaca berisi kue-kue lezat tadi dan memilih makanan dan minuman untuk bekal nonton nanti.
Jadilah tangan kami penuh dengan tentengan di kiri dan kanan.
Sementara itu suasana sudah mulai ramai. Banyak teman-teman sebaya kami yang mulai datang dengan rombongan masing-masing.
Setelah itu ada teman ibu yang cantikkkkkk banget menghampiri kami. Kalau tidak salah namanya Tante Tika.
“Ayo foto dulu,” katanya.
“Yuk… sini ngariung…,” kata ibu.
Klik. Klik. Klik.
“Nih, lihat fotonya,” kata ibu lagi.
Wuaaahhh…. kami kelihatan keren banget temans, dengan seragam baru kami berwarna pink dan rok bunga-bunga, yang kalau tidak salah diberikan oleh salah satu tante anggota TDA juga, yang punya toko busana muslim “GERAI SALMAA“. Tadi kami juga sempat lewat di depan tokonya di Bekasi Square ini. Terimakasih ya Tante…
Selesai difoto oleh Tante Tika, kami lihat di luar ramai sekali.
Wah, ternyata masih ada sesi foto lagi.
Kami pun menghambur keluar untuk ikut nimbrung berfoto. Kali ini dengan spanduk yang lebih buesssarrr..
.
Mau lihat hasilnya? Ini dia…
Puas berfoto ria, kami diajak masuk ke ruangan tempat nonton film. Kalau tidak salah namanya “studio”. Di kertas kecil yang tadi ibu tunjukkan ada tulisan angka “1″, artinya kami akan nonton di studio satu.
Kursi yang kami duduki berada di deretan kedua dari atas, deretan “B”.
Film belum mulai, kami masih asyik ngobrol-ngobrol.
Bu Endah sempat bertanya, “Inget gak pelajaran tentang ‘Man Jadda Wajada’?”.
“Inget Bu,” jawabku.
“Artinya apa?” tanya beliau lagi.
“Siapa yang bersungguh-sungguh akan mendapatkan.”
“Pinter!!” senyum ibu mengembang senang. “Siapa yang dulu ngajari?” tanyanya lagi.
“Kak Ihsan Bu.” kali ini Siti yang menjawab.
“Bagus. Meskipun Kak Ihsan sudah nggak ngajar lagi, kalian nggak boleh lupa sama ilmunya ya.”
“Iya Bu,” sahut kami.
Tentu saja kami tidak akan lupa. Pelajaran Mahfudzot (kata-kata mutiara) adalah salah satu pelajaran yang kami suka.
Man jadda wajada, man shabara zhafara, khairunnasi ‘anfa ‘uhum lilnnasi , dan banyak lagi mahfudzot yang diajarkan kepada kami. Tidak hanya sekedar untuk dihafalkan, tetapi juga untuk diamalkan. Apalagi yang mengajarkan adalah Kak Ihsan yang manis dan murah senyum itu, idola kami para santrinya.
Gubrakkkk!! Kok jadi ngelantur gini ya. Hehehe…
Eh, film sudah mulai nih.
Cerita dimulai dengan keengganan Alif untuk masuk ke pesantren. Dia lebih ingin masuk ke sekolah umum (SMA) untuk melanjutkan ke ITB.
Wuah, sama banget kayak kami, paling takut kalo disuruh masuk ke pesantren
.
Meskipun enggan, Alif tetap menuruti keinginan orang tuanya. Ya, Alif adalah anak yang patuh dan hormat pada orang tua. Alhamdulillaah, guru-guru kami juga selalu mangingatkan kami agar menjadi anak seperti Alif.
Singkat kata, Alif akhirnya merasa senang dan sangat menikmati kehidupannya di pesantren, dan bahkan akhirnya menjadi orang sukses yang bisa berkelana ke berbagai negara.
Hmm…, ternyata kehidupan di pesantren tidak seseram yang kami bayangkan.
Malah kelihatannya sangat menyenangkan.
Mudah-mudahan kami juga mendapat kesempatan untuk belajar di pesantren seperti Alif.
Oya, ada satu tokoh yang membuatku terkesan. Namanya Baso. Dia adalah teman Alif, seorang santri dari Gowa, Sulawesi.
Di tengah-tengah pendidikannya di pesantren, dia harus rela untuk pulang ke kampung halamannya dan meninggalkan pesantren yang mulai dicintainya untuk merawat neneknya yang sakit keras.
Aktivitas Baso di kampung adalah mengajarkan ilmu agama kepada anak-anak kecil di sana.
Mirip sekali dengan awal-awal berdirinya TPQ Al Insyiroh, tanggal 8 Juni 2008 dulu.
Awalnya, kami hanya berenam belas, belajar mengaji di rumah Pak Yusron, dan beliau sendiri yang mengajar kami. Lama kelamaan banyak teman kami yang bergabung sampai akhirnya saat ini sudah sekitar seratus orang yang belajar disini.
Guru kami sekarang ada tiga orang, dan terbagi menjadi empat kelas.
Sayang, sampai saat ini kami masih belajar di Musholla, belum memiliki tempat belajar sendiri.
Doakan kami ya temans, semoga kami segera bisa mendapatkan tempat untuk belajar, dan tidak selamanya menumpang di musholla, karena kegiatan kami juga banyak, termasuk grup marawis yang sudah beberapa kali mengikuti festival dan perlu tempat terpisah untuk berlatih.
Ada satu lagi keinginanku. Aku ingin belajar menulis lebih baik lagi, agar dapat lebih banyak mensyi’arkan ilmu kami yang masih sangat sedikit ini kepada banyak orang, dan bisa berbagi inspirasi kepada dunia. Ingin sekali bisa punya karya seperti “Edelweiss Terakhir“-nya Bu Endah yang sebentar lagi akan terbit itu.
Mudah-mudahan ada kesempatan untuk menimba ilmu tentang kepenulisan dan ilmu-ilmu lainnya. Intinya, kami ingin menjadi insan yang bermanfaat bagi banyak orang, karena, bukankah sebaik-baik manusia itu adalah yang bermanfaat bagi orang lain?
Doakan kami tetap istiqomah ya teman-teman.
Terakhir, kami sangat berterimakasih kepada Om, Tante, Kakak, Mas, dan Mbak di TDA yang telah mengajak kami bersenang-senang hari Sabtu yang lalu. Mudah-mudahan ini bukan yang terakhir kalinya yaa
.
Semoga Allah membalas dengan pahala dan rizqi yang berkah dan berlipat ganda.
Amiin ya Robbal ‘Aalamiin.
Bekasi, 12 Maret 2012.